Tuban dan siwalan, 2 hal tak
terpisahkan. Seperti Romeo dan Juliet, Yusuf dan Zulaikha, Upin dan Ipin,
Harry Potter dan Voldemort... (oh tidak!
Jangan sebut namanya)
Tuban, kabupaten di pinggir
pantai utara yang memiliki luas 1.905 km2 ini, adalah pelabuhan internasional pada
masa kerajaan Majapahit. Lokasi yang strategis dan sumber daya alam yang kaya, menjadikan
Tuban jujugan para saudagar Arab dan Cina sejak jaman kaki-nini buyut
kita. Makam Syaikh Akbar Ibrahim Asmaraqandi dan cucunya, Sunan Bonang, adalah
bukti melimpahnya khasanah surgawi yang membuat para suyukh penyebar
Islam di Jawa memilihnya sebagai salah satu titik membangun peradaban.
Dari lautnya, Tuban makmur akan
hasil olahan laut. Dari ikan panggang, terasi udang, kerupuk ikan, petis, sampai
kare rajungan yang banyak diburu penggila kuliner masa kini. Nah kalau dari daratan,
ini dia buah paling khas dari Tuban. Anda buru ke penjuru nusantara pun, ke
Eropa, Amerika, dataran Sahara, kagak bakal ketemu. Memang cuma di sini
adanya, di Tuban. Yup, itu dia, buah siwalan.







