Sahabat

Sahabat adalah mereka yang tahu semua kekuranganmu, namun tetap memilih bersamamu ketika orang lain pergi meninggalkanmu.

Rencanamu

Segera laksanakan rencana keberhasilanmu di hari ini, jangan tunda lagi, jangan buang waktu, karena waktu tidak bisa menunggu.

Hidup

Hidup ini bukan tentang apa yang dipikirkan mereka yang membencimu, namun tentang apa yang dipikirkan Tuhan yang menyayangimu.

Menulis

Tulislah apapun yang sedang kamu pikirkan walaupun hanya sebaris!

Showing posts with label Sharing. Show all posts
Showing posts with label Sharing. Show all posts

Tuesday, 31 January 2017

Who are you? What are you?


Sejak masih SMP, saya suka mencari rubrik kuis psikopop di majalah sekolah atau majalah remaja. Sampai SMA, saya masih tertarik pada hal-hal semacam ini. Terkesan banget kalo ada guru yang ngajak bermain menyingkap karakter muridnya.

Pernah suatu saat, guru PPL meminta kami menuliskan binatang kesukaan kemudian menebak karakter satu-satu berdasar binatang yang kami pilih. According to binatang dan tebakan yang disebutkan bu guru, saya mereka-reka pola dan rumus yang digunakan beliau. Dan sejak saat itu saya selalu mendapat konfirmasi positif setiap kali menebak sifat berdasar binatang favorit yang di sebutkan seseorang.

Wednesday, 5 October 2016

Tes Substansial LPDP: Leaderless Group Discussion

Biasanya, seleksi beasiswa diakhiri dengan tes wawancara. LPDP berbeda. Tahap akhir untuk meraih sponsor studi pasca sarjana yang dinaungi 4 kementerian ini dinamakan tes substansial, terdiri dari On the Spot Essay Writing, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara.

Ketiga tes tersebut bisa diikuti setelah data pelamar yang diupload dalam tahap administrasi, dinyatakan lulus verifikasi.

Friday, 8 July 2016

Tes Substansial LPDP; On the spot essay writing




'Faidza azamta fatawakkal alallaah'


"Tes substansial LPDP itu ramenya udah kaya audisi Indonesian Idol. Jangan kaget ya!"

Kalimat dari mbak Iin masih terngiang. Iyakah? Aih... Belum nyampe tahap ini aja rasanya udah gimana.. gitu. Terbayang deh, seleksi pencarian bakat terheboh di tanah air, yang pernah saya ikuti di Jogja Expo Center waktu itu. Rempongnya, Antrinya...


Eh bukan2, saya nggak jadi kontestan, tapi tim pertolongan pertama.

Wednesday, 15 June 2016

Jalan Panjang Meraih LPDP (2): Berburu Rekom







Faidza Azamta fatawakkal alallaah (QS 3: 59)
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah swt.
(QS Ali Imron; 59)




Beasiswa LPDP konon katanya adalah beasiswa bergengsi di tanah air kita Indonesia, yang jumlah peminatnya cukup wow! Dan saya baru ngeh dengan Qiilaa wa Qaal tersebut setelah ngerasakan sendiri. Dengan registrasi yang saya lakukan di hari terakhir dan jam-jam menuju deadline, saya diganjar nomer peserta 6538. What??? Sebanyak itukah? Oh My…


Nggak bagus tuh sebenarnya, ndaftar kok sudah di ujung waktu. Trafficnya pasti rame, trus lagi… haduh… sempat stress gegara iklan-iklan yang muncul tak diundang. Bikin sewot banget, sampe sempat nyoba ganti laptop segala. Padahal saya ngupload dokumen dari pagi lho!


Alhamdulillah ala kulli Hal, jika Allah telah berkehendak, semuanya jadi mungkin. Jam Sembilan malam lewat sekian, aplikasi pendaftaran saya submit.  Dan langsung disambut email jawaban dari LPDP. Huwiih… lega.  


Sebetulnya sih saya sudah nyicil segala kelengkapan data ini 3 bulan sebelumnya. Begitu kelar dengan urusan TOEFL, saya langsung membuat akun pendaftaran di www.beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id


Friday, 26 February 2016

NGGAK ADA JUDUL




Disiplin nulis itu nggak gampang. Suer, nggak gampang!!! Bergabung  dalam komunitas kepenulisan pun,  ggak jamin kalo habit nulis rutin tiap hari bakal langsung muncul. Berjuta kata petuah dari penulis seproduktif  apapun, cuma mampu jadi pembangkit semangat sesaat lalu malas datang lagi. 

Yaah.. gimana lagi, kerjaan nggak habis-habis. Pagi berangkat, bakda ashar baru datang. Sudah di rumah, krucil-krucil yang jenaka bakal protes kalo nggak diajak main. Belum lagi merhatiin urusan soulmate. Biar kata suami bisa diajak berbagi kerjaan rumah dan pengertian bingit kuadrat, tetep dong yang namanya isteri sholihah (ehemmm…) akan tetep rempong mengurus itsy bitsy thing di dalam republic bernama rumah tangga. Ampun, ngeles lagi kan… 

Sejujurnya, saya ini bagian dari orang yang suka dideadline. Biarpun gak seneng denger orang beralibi ‘the power of kefefet’, tapi honestly… that’s me (hiks): kontributor majalah sekolah yang selalu ditagih-tagih sama pimred, anggota komunitas menulis yang selalu diobrak-obrak divisi kekaryaan buat ngirim karya ke koran tiap minggu, dan blogger gadungan yang bisa sampe lupa sama password gegara nelantarin blog berbulan-bulan. Bikin lagi, lupa lagi. Hadeeeh.. (tepok jidat)

But one day, seorang teman ngajakin, “mau nggak dideadline nulis tiap hari?” 
Iiih, mau banget!!!

And finally I’m here, di komunitas bernama One Day One Post (ODOP) ini.
Kalo soal apa manfaatnya ODOP buat saya, beuuuuh… jangan tanya lagi. Blog jadi terisi tiap hari, itu pasti. Meski kadang ada juga ngutangnya, hehe… tapi alhamdulillah setelah beberapa minggu mulailah saya bisa memenej waktu lebih baik (ceilah!) dan nggak ada lagi cerita hutang piutang macam bayar cicilan panci. Justru dari tulisan yang terkumpul tiap hari itu, jadi punya banyak bahan buat ngirim karya ke koran. Asseeek…

Nah, kalo soal gimana rasanya ngODOP, huwaaaah… gak bakalan ada cukup kata buat nyeritainnya.
Di awal nggabung, sering banget saya kebanjiran notif, ratusan sampe ribuan. Mau scroll pasti kelabakan, nggak nyecroll eman-eman. Pasalnya, hampir semua yang di komunitas ini gelo semua (wahaha). Ada apa dikit, pasti dikupas (gak) tuntas tanpa solusi. Lha, isinya saut-sautan nggak jelas semua, dari tema gadis jeruk, seorang comedian yang ganti status sebagai galauer super mellow, sampai surat undangan. Kalau boleh saya simpulkan temanya adalah anti tema itu sendiri, gigigig..

Maklum aja, isi rumah ODOP heterogenitasnya kebangetan. Mulai dari anak (balita?) superaktif yang suka hembring soal Olimpiade dan try out, sampe ibu dokter hewan yang lagi pusssiiing stepping forward buat jadi doktor. Tapi yang paling biang kerok di sini, kalo saya boleh nuduh, sepertinya adalah barisan emak dan emak-wanna be yang suka nggelar tikar sambil ngemil. Mereka ini multitalent, multijob, dan multidefinisi mulai dari penggosip, biro jodoh, bullier akut, yang sukanya gak mau kalah kalo ada orang mau bagi-bagi ebook. Hadeeeh… beneran never ending deh ngomongin grup ini. Tapi disitulah keliatan charmingnya masing-masing orang ;)

Eh, keceplosan soal ending, jadi sedih keingetan waktu bang Syaiha bilang kalo grup ini bakal no longer exist 2 bulanan lagi. Huwaaa.. nangis guling-guling di pojokan waktu denger ini. Plis dong bang Syaiha, jangan!!! at least alternative kedua yang bang Syaiha sampeikan waktu itu, grupkan lagi kita-kita yang masih suka ngumpul dan butuh diingatkan selalu biar tetep istiqomah ini, huhuhu…

Haduuh… pemirsa, jadi mellow nih saya ;(
Saya cukupin dulu ya catatan nggak jelas tentang ODOP ini. Saya mau lanjutin nangis nih kayaknya (lebay).
Tulisan ini semata-mata saya buat untuk memenuhi tantangan minggu keempat dari bang Syaiha. Jadi kalo ada salah kate.. dimaapin ye.. (kan kita teman, toss!).

THE END~




Tuesday, 23 February 2016

Met Milad FLP :)



Gegara baca postingan  mbak Ella hari ini, jadi ingat kalo kemarin adalah “DENG”nya milad Forum Lingkar Pena (FLP). Selamat bertambah umur FLP, barakallah fii Umrik. Semoga semakin banyak karya besar dan berati lahir darimu, menjadi pelopor sastra santun di era didital, setia berbakti-berkarya-berarti pada Ilahi Robbi dan Ibu pertiwi.

Dan coretan ini kutulis hanya untukmu: 

Friday, 19 February 2016

Buku Harian yang Menginspirasi



Gemetar rasanya bisa ketemu buku ini lagi. Saya telah menjumpai 3 cetakan berbeda. Pertama, di tahun awal saya penasaran pada buku ini dan mendapati cetakannya yang seukuran separuh folio. Kedua, ketika heboh akan difilmkan ke layar kaca, saya membeli bukunya, dan (naasnya) hilang. Berkali-kali mencari lagi tapi tak menemui toko yang menjualnya. Hingga, akhirnya tahun ini seorang teman berhasil menghadirkan buku ini untukku.

Saturday, 13 February 2016

Surat cinta untuk saudaraku umat Islam








Saudaraku, tahukah kamu?
Katanya ini bulan kasih sayang. Padahal sejarahnya simpang siur tak menentu.
o  Ada yang merujuk pada upacara pemujaan dewa kesuburan pada abad IV SM.
o  Ada yang menyebutkan sebagai peringatan pada uskup bernama Saint Valentine yang menikahkan seorang tentara dengan kekasihnya, ketika kekaisaran Romawi Claudius II

Tuesday, 9 February 2016

Valentine???



Februari lagi. Pink mendominasi lagi. Coklat jadi artis lagi. Bunga tak ketinggalan. Aneka pesta, event, konser, nobar, kumpul rame-rame, dan sederetan agenda beikutnya menyambut sehari yang disakralkan dunia. Sedihnya, hari-hari lainnya sesama pemilik lembar kalender Februai jadi kena getahnya.

Kebablasan

“Mbak, turun mana mbak?” suara sopir mengagetkanku.
“Turun ter… “ aku jadi ragu menjawab. Jangan-jangan ini pemberhentian terakhir? Kudongakkan kepala, toleh kanan-kiri. Aneka mikrolet berbaris sesuai label hurufnya, berbanjar.
“Ini sudah terminal ya pak?” pertanyaan konyol, aku juga gak pede nanyainnya, hanya dari pada nyasar.

Tuesday, 2 February 2016

Obat anti nyamuk


Abi: Mi, jangan lupa beli obat nyamuk            ya!
Umi: Whatt? Obat nyamuk?

 (Umi yang paham bahayanya obat nyamuk langsung parno)

Umi:  Obat nyamuk gimana                                  maksudnya?

Friday, 29 January 2016

Donor Darah, why not??

Kapan ya terakhir saya mendonorkan darah? pikir-pikir-pikir, ternyata sudah lama, tahun 2008. Dan karena

pengalaman donor terakhir 6 tahun lalu yang kurang menyenangkan, saya belum antusias donor darah lagi. Seolah semua perjuangan saya untuk menjadi donor darah bertahun lalu jadi pupus karena kenangan buruk itu.

Benar, saya butuh cukup usaha untuk berhasil mendapat predikat menjadi pendonor. Sejak SMA saya sudah ngebet mendonor darah. Beberapa kali sekolah saya ditempati PMI untuk donor darah keliling. Dan saya harus sadar diri sebelum memeriksakan ini itu karena saya punya alasan utama untuk ditolak mendonorkan darah, berat badan kurang, dan belum cukup umur.

Pay it forward

Pay it forward. Bagi penggemar film Hollywood, terutama film-film tahun 2000-an, dijamin tidak asing dengan istilah ini. Yup, pay it forward adalah sebuah judul film inspiratif tentang anak kecil yg mengubah dunia. Meski sudah jadul, ada saja kejadian yang spontan mengingatkan saya pada kalimat ini. Termasuk hari ini di jalan raya, ketika saya bertemu nenek tua yang sedang kesulitan membawa barang-barangnya.

Sunday, 24 January 2016

Narsis

Saya kenal kata narsis, tepatnya narcissus, kali pertama adalah dari beberapa paragraf dalam novel Budi Darma, Olenka. Di halaman 224 beliau tuliskan “Memang untuk dapat melihat diri kita sendiri dengan benar kita tidak selayaknya menjadi narkisus. Untuk menjadi lebih agung, kita tidak perlu menonton diri kita sebagai jagoan dalam novel-novel picisan. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yunani Kuno, kita memerlukan catharsis, yaitu rasa mual terhadap diri kita sendiri…”

Percaya Diri

Hanya orang yang tidak memiliki kepercayaan dirilah yang berani berbuat ketidakbaikan. Karena dia tidak memiliki percaya diri, dia berusaha menghilangkan kegelisahannya dengan berbuat kejahatan. Kepercayaan diri seseorang itu berbeda-beda. Dan kepercayaan diri yang baik akan membuat seseorang memandang dirinya baik dengan menghindari ketidakbaikan. Demikian kira-kira ungkapan Krishna dari taman nirwana, dalam satu episode dari serial Mahabharata.

Thursday, 14 January 2016

3 Days Exploring Singapore





Modern, bersih, dan tertib. Itulah 3 kata paling pas untuk menggambarkan Singapore dari beberapa cerita dan video yang saya dapati. Dan setelah Allah swt memberi kesempatan menjejakkan kaki kesana, Masya Allah… banyak betul pelajaran berharga dari negeri kecil berlambang singa, yang baru saja dinobatkan sebagai pengelola sistem pendidikan terbaik di dunia versi PISA.

Thursday, 23 April 2015

Malaikat di Tengah Hutan



Pengalaman ini, tidak akan begitu saja hilang dari ingatan saya. Meski sudah lama sekali terjadi, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA. Di sekolah saya, mengadakan bhakti social di penghujung masa sekolah adalah program warisan kakak kelas yang dari tahun ke tahun selalu terlaksana dengan sukses. Sehingga saya dan teman-teman seangkatan mau tidak mau  merasa wajib melaksanakan bhaksos kami lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja bukan bhakti sosial biasa.

Monday, 20 April 2015

Awas Ikan Panggang!!!



Dulu, saya sangat menyukai ikan panggang. Dagingnya yang empuk, aromanya yang sedap, dan rasanya yang gurih, membuat saya menjadikannya lauk favorit. Selain itu ikan panggang banyak cocoknya untuk aneka menu. Dengan sayur lodeh cocok, dengan sayur asempun okay. Pendek kata, hampir setiap hari saya makan dengan ikan panggang. Tanpa memperhatikan bagaimana cara masaknya, saya selalu beranggapan ikan adalah makanan bergizi. Ikan mengandung sumber  protein yang diperlukan tubuh dan mengandung banyak zat gizi seperti DHA, asam amino, zat besi, dan berbagai vitamin.
Tapi saya salah, ternyata tidak hanya bahan makanan yang harus bergizi, cara memasakpun

Friday, 17 April 2015

Wahib, Gie dan saya



Sejak kecil saya suka menuliskan kisah harian saya dalam sebuah buku. Hingga SMA, saya telah memiliki beberapa buku harian yang tersimpan rapi. Suatu saat ketika membutuhkan, saya membacanya untuk mendapatkan nasihat dari tulisan-tulisan sendiri. Suatu saat di kelas 3 SMA, kakak kelas memberi hadiah buku. Pergolakan pemikiran Islam oleh Ahmad Wahib. Kaget saya saat itu, ternyata buku tersebut adalah buku harian. Sekali lagi, sebuah BUKU HARIAN, milik Ahmad Wahib, yang memotret pikiran-pikirannya tentang Islam, politik, lingkungan sosial dia berada, serta pergerakan yang dia geluti.

Sunday, 22 June 2014

Nyontek



Sebagai pendidik saya selalu menasehati murid-murid saya agar jujur saat ujian. Saya benci jika menemukan murid saya curang, menyontek/ngrepek, saling bertanya jawaban, ketika mengerjakan test obyektif yang sifatnya individual dan closed book. Maka dalam kondisi lain ketika posisi saya adalah peserta didik, saya akan konsisten untuk jujur dalam ujian, tidak ngerepek, tidak menanya jawaban pada orang lain, juga untuk tidak menconteki orang lain. 

Namun tidak gampang ternyata.  Dalam beberapa kesempatan seperti itu, saya banyak diuji.